Kala fajar mulai terbenam, rembulan
kembali menyombongkan diri dengan sinar indahnya. Burung hantu membuka mata
bulatnya, mengamati kelelebat yang setiap saat lewat. Angin malam pun mulai
berhembus, menandakan kesunyian malam yg semakin temaram. Di sudut lain,
makhluk-makhluk dunia lain juga semakin mengusik damainya kehidupan manusia.
Dikala semua semakin sepi dan semakin mencekam, kulangkah kaki menuju ke alam remang-remang ini. Sedikit demi sedikit
orang-orang perlahan mulai kembali ke rumah dan memejamkan mata. Namun tidak
dengan badan ini. Semakin lama semakin kulangkahkan kaki, meneguhkan hati dan
keyakinan menjadi hamparan yang akan membuatku tahan di tanah temaram ini.
Memang aku tidak sendirian. Dipersebaran daratan dan lautan yg membentang luas ini,
banyak orang yang bernasib sama sepertiku, bahkan jumlahnya pun bisa saja ada
ribuan orang. Orang-orang berhati baja yang rela meninggalkan kenyamanan
beristirahat hanya demi lembaran-lembaran uang kertas, dan mungkin jumlahnya
pun juga tidak seberapa. Diantara dari kami ada yang ke pasar sekedar untuk
berjualan ataupun sampai rela berdiri diatas sampan ditengah lautan. Jangan
pandang ini semua remeh. Orang-orang seperti kami memang bukan orang kaya,
bukan juga orang pintar semacam profesor yg kerjaanya penelitian melulu. Tpi
kami ikhlas menjalani semua ini. Kami rela menjual waktu istirahat kami
daripada kami harus duduk di kursi dewan, sambil santai-santai mencicipi uang
rakyat. Ataupun menjadi orang kantoran yg kerjaannya duduk didepan komputer
melulu. Bisa-bisa malah ambeien kalau terlalu lama duduk.
Badan ini, jiwa ini adalah salah satu
dari gerombolan pejuang malam. Pelan-pelang menunggangi sampang kayu tua ini.
Bergelut dengan ombak yang sering bergonta-ganti perasaan. Terkadang kalau lagi
senang juga membuat kami tenang, tapi kalau sedang marah. Jangan harap
mendapatkan tangkapan, selamat sampai rumah pun sudah puji syukur bagi kami.
Dibawah taburan bintang-bintang di langit, kami menebar jaring kesana kemari.
Berharap ikan-ikan akan berbaik hati memberikan raganya bagi lelaki yang tak
punya apa-apa ini. Aku tahu, lautan bukanlah seperti kolam. Jauh di bawah sana,
entah makhluk seram apa yang sedang mengintai. Sungguh memang sesmuanya adalah
kuasa Allah semata. Semua keindahan yang terhampar. Semua hal-hal yang tampak
mengagumkan, semua adalah ciptaannya.
Malam ini bukanlah malam pertama dan
terakhir kami berjuang. Tapi memang inilah yang ada dijalan sekarang. Ingatlah,
kalau takdir bisa diubah, asalkan ada kemauan. Jangan bangga menjadi orang
seperti kami, tapi juga jangan meremehkan kami. Karena seburuk-buruk pekerjaan
yang halal, semua pasti ada yang membutuhkan.
#SalamPejuangMalam

No comments:
Post a Comment